wawan

wawan
wa2n

Sabtu, 19 November 2011

Teknologi Bioflok sebagai alternatif informasi budidaya perikanan

Bioflok Teknologi sebagai alternatif informasi budidaya

Bioteknologi merupakan penggunaan sistem biologi atau organisme hidup dalam proses produksi. Bioteknologi memiliki cakupan manfaat yang luas bagi dunia perikanan dan budidaya ikan. Manfaat tersebut diantaranya, meningkatkan tingkat pertumbuhan ikan budidaya, meningkatkan nilai gizi pada pakan ikan,
meningkatkan kesehatan ikan, membantu memperbaiki dan melindungi lingkungan, memperluas cakupan jenis ikan, meningkatkan pengelolaan dan konservasi ketersediaan benih di alam.
Ciri utama bioteknologi adalah :1) adanya benda biologi berupa mikroba, tumbuhan atau hewan; 2) adanya pendayagunaan secara teknologi dan industri; dan 3) produk yang dihasilkan adalah hasil ekstraksi dan pemurnian.
Apa dan Bagaimana

1. Bioflok sebagai Salah Satu Alternative Budidaya

Tantangan yang dihadapi oleh para praktisi budidaya adalah :
1.Terus menurunkan biaya pakan, karena pakan mempresentasikan biaya operasional terbesar dalam budidaya intensif( biasanya 50%)
1. Meningkatkan efisiensi konversi pakan
2. Meminimalkan pengaruh negatif terhadap lingkungan

Pakan biasanya dipandang sebagai sumber polutan terbesar dalam budidaya, karena ikan atau udang hanya mampu memanfaatkan protein pakan sekitar 25%, sehingga dibutuhkan protein tinggi untuk mengkompensasi pemanfaatan protein yang rendah tsb. Pakan formulasi seringkali hanya ditujukan untuk kepentingan hewan target (ikan atau udang yang dipelihara), satu factor yang sering diabaikan adalah kontribusi nutrisional terhadap lingkungan. Di sistem air deras, kontribusinya mungkin dapat diabaikan. Tetapi disistem intensif dengan sedikit atau tanpa ganti air dan bermuatan organic yang berat, seperti petak udang atau ikan nila, pengaruhnya sangat substansial. Oleh karena itu, masalah yang sering muncul berhubungan dengan intensifikasi budidaya adalah akumulasi ammonia di air sebagai produk akhir metabolisme yang utama dari katabolisme protein/de-aminasi protein.

2. Bagaimana membentuk Bioflok?
Aerasi & Pengadukan
Di system budidaya, kandungan oksigen di air lebih dipengaruhi oleh aktifitas alga dan bakteri daripada species budidaya. Karena dalam sistem ini petambak menurunkan atau tanpa ganti air, akibatnya terjadi akumulasi suspensi bahan organic dan bakteri yang lebih tinggi di kolam. Sebagai akibatnya, BOD meningkat dan oleh karena itu laju aerasi harus ditingkatkan.
Di samping untuk oksigenasi, aerator harus mampu menciptakan pengadukan yang cukup untuk mencegah zone sedimentasi kotoran anaerob Sedimen anaerobic akan menghasilkan produk buangan toksik seperti nitrit dan H2S. Apalagi untuk system air laut, dimana kelimpahan sulfat mendukung produksi H2S dibawah kondisi anaerobik.

Rasio C:N
Bakteri heterotrof mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk mensintesa protein dari karbon organic dan ammonia. Oleh karena itu, sangat krusial bahwa C:N harus sesuai untuk pemanfaatan bakteri. Biasanya pakan regular untuk udang berprotein tinggi setidaknya 35% dengan C:N rasio rendah sekitar 9:1, sementara bakteri membutuhkan 20 unit karbon per unit nitrogen yang diasimilasikan. C:N rasio bisa ditingkatkan dengan memberikan pakan berprotein rendah (prosentase karbohidrat tinggi) atau dengan penambahan sumber karbohidrat seperti tetes. Oleh karena itu salah satu tantangan dalam sistem ini adalah mendesain pakan yang bisa dimanfaatkan oleh organisme budidaya (udang) dan juga oleh komunitas mikrobial.
C:N rasio di bakteri hanya 4-5, tetapi hanya mengasimilasi 40% sehingga memerlukan rasio C:N > 12.5 Lebih baik jika rasio C:N rasio meningkat hingga 15-25:1 (= level protein < 25%) sumber http://www.indonesianaquaculture.com/showthread.php/32-Bioflok-Teknologi-Apa-dan-Bagaimana-!!!

Minggu, 06 November 2011

NATIONAL CENTER FOR BIOTEKNOLOGY INFORMASI

NATIONAL CENTER FOR BIOTEKNOLOGY INFORMASI

ersangkutan. Berbagai kajian baru bermunculan, sejalan de
ngan           Perkembangan TI itu sendiri dan disiplin ilmu yang didukungnya. Aplikasi TI dalam bidang bio Penetrasi Teknologi Informasi (TI) dalam berbagai disiplin ilmu telah melipatgandakan perkembangan ilmu yang bersangkutan. Berbagai kajian baru bermunculan, sejalan dengan perkembangan TI itu sendiri dan disiplin ilmu yang didukungnya. Aplikasi TI dalam bidang biologi molekul telah melahirkan bidang Bioinformatika. Kajian ini semakin penting, sebab perkembangannya telah mendorong kemajuan bioteknologi di satu sisi, dan pada sisi lain memberi efek domino pada bidang kedokteran, farmasi, lingkungan dan lainnya.
National Center for Biotechnology Information (NCBI) adalah bagian dari Amerika Serikat National Library of Medicine (NLM), sebuah cabang dari National Institutes of Health. Para NCBI terletak di Bethesda, Maryland (38.994994 ° N 77.099339 ° WCoordinates: 38.994994 ° N 77.099339 ° B) dan didirikan pada tahun 1988 melalui legislasi disponsori oleh Senator Claude Pepper. Para NCBI rumah sekuensing genom data dalam GenBank dan indeks artikel penelitian biomedis di PubMed Central dan PubMed, serta informasi lain yang relevan dengan bioteknologi. Semua database yang tersedia secara online melalui mesin pencari Entrez.
NCBI diarahkan oleh David Lipman, salah satu penulis asli dari program BLAST urutan alignment dan seorang tokoh yang dihormati di Bioinformatika. Dia juga memimpin program penelitian intramural, termasuk kelompok yang dipimpin oleh Stephen Altschul (BLAST lain co-penulis), David penghuni darat, dan Eugene Koonin (seorang penulis produktif di genomik komparatif).

Para NCBI telah memiliki tanggung jawab untuk membuat database GenBank tersedia urutan DNA sejak 1992. GenBank berkoordinasi dengan laboratorium individu dan database urutan lainnya seperti Biologi Laboratorium Molekuler Eropa (EMBL) dan DNA Data Bank of Japan (DDBJ) . 
Sejak tahun 1992, NCBI telah berkembang untuk menyediakan database lain selain GenBank. NCBI menyediakan Warisan Mendel Online di Man, Database Modeling Molekuler (struktur protein 3D), dbSNP database polimorfisme nukleotida tunggal, Koleksi Gene Urutan unik Manusia, Peta Gene dari genom manusia, Browser Taksonomi, dan koordinat dengan National Cancer Institute untuk menyediakan Proyek Genome Kanker Anatomi. Para NCBI memberikan pengenal unik (nomor ID Taksonomi) untuk setiap spesies organisme.
Para NCBI memiliki alat software yang tersedia dengan browsing WWW atau melalui FTP. Sebagai contoh, BLAST adalah kesamaan urutan program yang mencari. BLAST dapat melakukan perbandingan urutan DNA terhadap database GenBank dalam waktu kurang dari 15 detik.

Rak Buku pada NCBI adalah kumpulan tersedia secara bebas, download, on-line versi buku biomedis yang dipilih. Sejak April 2011, Rak Buku telah ada 845 judul yang meliputi berbagai topik termasuk biologi molekuler, biokimia, biologi sel, genetika, mikrobiologi, menyatakan penyakit dari titik molekuler dan seluler pandang, metode penelitian, dan virologi. Beberapa buku adalah versi online dari buku yang diterbitkan sebelumnya, sementara yang lain, seperti Coffee Break (buku), yang ditulis dan diedit oleh NCBI staf. Bookshelf adalah pelengkap repositori Entrez PubMed peer-review abstrak publikasi dalam bahwa isi Bookshelf memberikan perspektif didirikan pada bidang berkembang studi dan konteks di mana banyak potongan individu yang berbeda dari penelitian yang dilaporkan dapat diatur.
           Kajian baru Bioinformatika ini tak lepas dari perkembangan biologi molekul modern yang ditandai dengan kemampuan manusia untuk memahami genom, yaitu cetak biru informasi genetik yang menentukan sifat setiap makhluk hidup yang disandi dalam bentuk pita molekul DNA (asam deoksiribonukleat). Kemampuan untuk memahami dan memanipulasi kode genetik DNA ini sangat didukung oleh TI melalui perangkat perangkat keras maupun lunak. Hal ini bisa dilihat pada upaya Celera Genomics, perusahaan bioteknologi Amerika Serikat yang melakukan pembacaan sekuen genom manusia yang secara maksimal memanfaatkan TI sehingga bisa melakukan pekerjaannya dalam waktu yang singkat (hanya beberapa tahun), dibanding usaha konsorsium lembaga riset publik AS, Eropa, dan lain-lain, yang memakan waktu lebih dari 10 tahun.
 Di dalam ensiklopedi Microsoft Encarta (2006) disebutkan bahwa proyek besar yang berusaha mengungkap tabir genom manusia yaitu Human Genom Project (HGP) telah menghasilkan urutan genom manusia. Urutan genom manusia yang lengkap ini telah menghasilkan suatu katalog sekitar 20.000 sampai 25.000 gen manusia, peta kromosom beresolusi tinggi, beratus ribu hal yang menonjol serta milyaran informasi pasangan basa urutan DNA. Sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk menampung banjirnya informasi dan data yang sangat bermanfaat ini sekaligus juga mudah dan cepat untuk mengaksesnya. Untuk itu sistem manajemen informasi laboratorium, yang bersifat otomatis, sistem manajemen database, dan alat penghubung pemakai grafis merupakan perkakas komputasi yang diperlukan untuk membantu peneliti genom  adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan.
         Kelahiran Bioinformatika modern tak lepas dari perkembangan bioteknologi di era tahun 70-an, di mana seorang ilmuwan AS melakukan inovasi dalam mengembangkan teknologi DNA rekombinan. Berkat penemuan ini lahirlah perusahaan bioteknologi pertama di dunia, yaitu Genentech di AS, yang kemudian memproduksi protein hormon insulin dalam bakteri, yang dibutuhkan penderita diabetes.
          Bioteknologi modern ditandai dengan kemampuan pada manipulasi DNA. Rantai/sekuen DNA yang mengkode protein disebut gen. Sekuen DNA satu organisme, yaitu pada sejenis virus yang memiliki kurang lebih 5.000 nukleotida/molekul DNA atau sekitar 11 gen, berhasil dibaca secara menyeluruh pada tahun 1977. Sekuen seluruh DNA manusia terdiri dari 3 milyar nukleotida yang menyusun 100.000 gen dapat dipetakan dalam waktu 3 tahun. Saat ini terdapat milyaran data nukleotida yang tersimpan dalam database DNA, GenBank di AS yang didirikan tahun 1982. Di Indonesia, ada Lembaga Biologi Molekul Eijkman yang terletak di Jakarta. Di sini kita bisa membaca sekuen sekitar 500 nukleotida hanya dengan membayar $15. Kecenderungan yang sama juga nampak pada database lain seperti databasesekuen asam amino penyusun protein, database struktur 3D protein, dan sebagainya. Inovasi teknologi DNA chip yang dipelopori oleh perusahaan bioteknologi AS, Affymetrix di Silicon Valley telah mendorong munculnyadatabase baru mengenai RNA.
            Desakan kebutuhan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisa data-data biologis dari database DNA, RNA maupun protein inilah yang semakin memacu perkembangan kajian Bioinformatika. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan yang sudah demikian pesat serta didukung dengan sistem informasi yang sudah sangat maju, maka dirasa perlu dan sudah waktunya memperkenalkan bioinformatika ke dalam kurikulum biologi.




A. Pengertian dan Ruang Lingkup Bioinformatika
            Memahami kebisuan alam tetapi dengan bahasa yang elegan dari kehidupan sel merupakan penyelidikan biologi melekuler modern. Hanya dengan menggunakan empat huruf yang mewakili subunit kimia DNA memunculkan sebuah urutan proses kehidupan yang mempunyai ekspresi paling kompleks yaitu manusia. Penjelasan dan penggunaan alfabet ini untuk membentuk kata atau ucapan merupakan fokus sentral pada bidang biologi molekuler. Data molekuler yang mengejutkan dan ketidakjelasan polanya telah menyebabkan munculnya permintaan mutlak komputerisasi database dan alat bantu analisis. Tantangan berikutnya adalah menemukan pendekatan baru untuk memperlakukan banyak dan kompleksitas data tersebut, serta dalam menyediakannya bagi peneliti dengan akses yang lebih baik untuk menghitung dan alat bantu analisis dalam rangka mengembangkan pemahaman pustaka genetik dan perannya dalam kesehatan dan penyakit. (Kutipan pengantar pada situs National Center for Biotechonology Information (NCBI) yang diakses melalui http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ ).
            Dalam ensiklopedi Wikipedia (2011) disebutkan bahwa Bioinformatikaadalah ilmu  yang mempelajari penerapan teknik komputasional  untuk mengelola dan menganalisis informasi biologis . Bidang ini mencakup penerapan metode-metode matematika , statistika , dan informatika  untuk memecahkan masalah-masalah biologis, terutama dengan menggunakan sekuens DNA  dan asam amino  serta informasi yang berkaitan dengannya. Contoh topik utama bidang ini meliputi data base untuk mengelola informasi biologis, penyejajaran sekuens (sequence alignment), prediksi struktur untuk meramalkan bentuk struktur protein  maupun struktur sekunder RNA , analisisfilogenetik , dan analisis ekspresi gen .
          Aprijani dan Elfaizi (2004) menyatakan bioinformatika merupakan kajian yang memadukan disiplin biologi molekul, matematika dan teknonologi informasi (TI). Ilmu ini didefinisikan sebagai aplikasi dari alat komputasi dan analisis untuk menangkap dan menginterpretasikan data-data biologi molekul. Biologi molekul sendiri juga merupakan bidang interdisipliner, mempelajari kehidupan dalam level molekul. Utama (2003) menyatakan bioinformatika didefenisikan sebagai aplikasi dari alat komputasi dan analisa untuk menangkap dan menginterpretasikan data-data biologi. Ilmu ini merupakan ilmu baru yang yang merangkul berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu komputer, matematika dan fisika, biologi, dan ilmu kedokteran, yang kesemuanya saling menunjang dan saling bermanfaat satu sama lainnya.
          Sedangkan menurut Tekaia (2004, dalam Aprijani dan Elfaizi (2004) bioinformatika merupakan metode matematika, statistik dan komputasi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah biologi dengan menggunakan sekuen DNA dan asam amino dan informasi-informasi yang terkait dengannya.
          Sedikit usaha statistik telah mendatangkan banyak kegembiraan, harapan, keprihatinan, kejutan, rasa keingintahuan, antusiasme, dan data yaituHuman Genome Project (HGP). Bidang kajian baru yang muncul dengan nama baru karena terinspirasi oleh HGP antara lain: Genomik, Farmakogenomik, Bioinformatika. Tulisan William Safire di New York Times Sunday Magazine (18 Feb 2001) mencantumkan sebuah judul dengan kata tunggal ”Proteomik”. Selamat datang di dunia ”informasi” yang berkelanjutan yang sarat muatan.
           Menurut Aprijani dan Elfaizi (2004) terdapat beberapa cabang ilmu yang terkait dengan bioinformatika. Cabang-cabang tersebut antara lain: Biofisik,Computational Biology, Medical Infromatics, Cheminformatics, Genomics, Mathematical Biology, Proteomics, Pharmacogenomics, sertaPharmacogenetics. Dengan adanya gambaran bahwa Bionformatika terkait dengan bidang-bidang ilmu yang lain memperlihatkan bahwa Bioinformatika mempunyai ruang lingkup yang sangat luas dan mempunyai peran yang sangat besar dalam bidangnya. Bahkan pada bidang pelayanan kesehatan Bioinformatika menimbulkan disiplin ilmu baru yang menyebabkan peningkatan pelayanan kesehatan.

B. Memperkenalkan Bioinformatika dalam Kurikulum Biologi
           Salah satu tugas pendidik adalah membuat siswa mengenali gagasan-gagasan, konsep-konsep, fakta-fakta, interpretasi baru beserta implikasinya. Demikian pula dalam bioinformatika ini, bagaimana kita memperkenalkan informasi baru ini ke dalam sebuah silabus pelajaran?  Bagian materi yang manakah yang akan kita hilangkan untuk menyediakan ruang bagi materi baru? Dari sisi paedagogi pendidikan perlu untuk mengurangi sesuatu yang menunjukkan signal akan hilang tak terpakai. Apakah program baru tersebut, paket pelajaran atau modul yang akan kita konstruksi untuk menangani beberapa materi baru sehingga bermanfaat bagai mereka? Dalam hal ini program baru yang kita kenalkan kepada anak didik kita tidak hanya masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, melainkan benar-benar menimbulkan bekas di benak meraka.
           HGP menyediakan banyak peluang untuk memanfaatkan dan memodifikasi isi paket pelajaran yang ada dengan lebih mudah. Ketika membicarakan tentang keterbatasan ilmu dan teknologi, HGP menyediakan beberapa contoh perubahan peran kemapanan, ketepatan instrumen dan beragam tekanan seperti, undang-undang, politik dan ekonomi. Perbedaan antara ilmu pengetahuan yang besar dengan ilmu pengetahuan yang kecil dapat digambarkan dengan seberapa banyak perhatian yang tercurah untuknya. Hal ini akan tampak bahwa pemahaman kita terhadap hipotesis tersebut diterima atau ditolak, terbukti atau tidak terbukti dapat dicontohkan dengan realisasi bahwa sebuah gen paling mungkin mengkode untuk lebih dari satu polipeptida.
            Susan Offner beberapa tahun telah menyajikan workshop menggunakan peta kromosom pada konvensi NABT. Beberapa artikelnya telah dimuat di ABT. Artikelnya yang paling baru adalah ”Sebuah Peta Daratan Inggris dari Enzim Glikolisis Manusia” dimuat pada rubrik isu edisi Juni 1999.
           Implikasi bioetik dari informasi ini muncul dari proyek yang menghasilkan peluang untuk menyediakan paket pelajaran atau modul baru di dalam paket pelajaran yang sudah ada. Beberapa peluang dan implikasi ini tampak pada gambar berikut (lihat gambar 1 & 2). Sebuah cerita sejarah bergambar yang bagus dari HGP dapat ditemukan dihttp://www.sciencemag.org/genome2001/1195.html .
            Fokus utama dari artikel ini adalah untuk menggambarkan sebuah rangkaian dari desain modul yang saling berkaitan untuk mengenalkan siswa kepada teknik-teknik biologi modern dalam wilayah bioinformatika. Seperti uraian di atas bahwa bioinformatika adalah aplikasi dari teknologi komputer untuk mengelola informasi biologi. Munculnya bioinformatika merupakan kebutuhan mendesak akibat dari ledakan publikasi genom yang tersedia saat ini, misalnya seperti yang dihasilkan dari HGP.
                                                            


          Pusat Informasi Bioteknologi Nasional (NCBI) di situshttp://www.ncbi.nlm.nih.gov/ , telah didirikan sejak tahun 1988 sebagai sebuah sumber nasional untuk informasi biologi molekuler. NCBI membuat database yang dapat diakses secara umum, mengembangkan alat bantu software untuk menganalisis data genom dan menyebarkan informasi biomedik yang semuanya untuk pemahaman yang lebih baik terhadap proses molekuler yang berdampak pada kesehatan dan penyakit manusia. NCBI adalah sebuah lembaga maya yang sangat berguna untuk menyediakan sekaligus tempat untuk menelusuri informasi berharga. Beberapa database yang tersedia di NCBI dan dapat dipertanggungjawabkan meliputi database bank gen skuens DNA yang mengandung lebih dari 9.103.000 skuens nukleotida yang tercatat pada Oktober 2000, database model molekuler (Molecular Modeling Database = MMDB) yang terdiri dari struktur tiga dimensi protein sebagai alat bantu visualisasi dan analisis perbandingan, serta database pola pewarisan mendel pada manusia (Online Mendelian Inheritance in Man = OMIM) yang merupakan katalog bagi kelainan gen dan genetik pada manusia.
            Keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa adalah bahwa NCBI telah mengembangkan sebuah cara yang sederhana untuk menganalisis dan mengakses semua informasi ini. ”Entrez” adalah sebuah sistem untuk pencarian dan menemukan kembali yang mengintegrasikan urutan nukleotida, urutan protein, dan struktur makromolekul seluruh genom, serta literatur ilmiah. Keuntungan sistem ini adalah bahwa semua database ini saling berhubungan satu dengan yang lain seperti terlihat pada gambar 3. Sebuah kemungkinan mengakses dengan mudah sekuens protein, memperoleh literatur protein tersebut, pengujian secara klinik terhadap kelainan protein yang diperoleh dari penyakit cacat, dan menganalisis lokasi gen pada kromosom, semuanya dapat dilakukan dengan klik pada sebuah tombol. Hal ini merupakan sebuah cara yang yang tersedia di NCBI yang sangat berguna untuk memulai menganalisis sejumlah informasi yang tidak masuk akal.
               Dengan melengkapi proyek ini, siswa akan diarahkan pada alat dandatabase yang sekarang ini digunakan oleh para peneliti dalam biologi molekuler, dan akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang analisis gen, dan hubungan antara urutan asam amino dengan struktur dan fungsi protein. Dalam mengerjakan modeul ini siswa tidak dituntut untuk mempunyai keterampilan pemrograman komputer hanya saja siswa diasumsikan sudah kenal dengan PC dan internet. Program utama yang dibutuhkan adalahinternet browser misalnya Nestcape Navigator atau Internet Explorer. Untuk beberapa modul siswa juga membutuhkan sebuah program untuk melihat model molekuler seperti misalnya program RasMol, yang tersedia secara gratis dan dapat di-download darihttp://www.umass.edu/microbio/rasmol/getras.htm . Siswa juga harus menyediakan alat penyimpan data seperti disket berukuran 3,5” atau flash disc yang digunakan untuk menyimpan sebuah file protein. Tujuh modul telah dihasilkan dan saat ini digunakan oleh mahasiswa di kelas Biologi Sel pada Universitas Negeri Armstrong Atlantic. Tiga dari modul tersebut tersedia dalam artikel ini. Sisanya mungkin dapat diperoleh dengan menghubungi penulisnya atau mengakses melalui web site yang tersedia melalui situs http://www.angelfire.com/ga2/nestsite2/bioinform.html . Modul ini dibuat sama bentuknya seperti yang disediakan untuk siswa.
 .

a. Modul 2. OMIM, Online Mendelian Inheritance in Man (hukum Mendel pada manusia secara Online)
           Pilih OMIM pada Homepage NCBI. Database ini adalah sebuah katalog gen-gen manusia dan kelainan genetik yang difokuskan pada penyakit menurun. Kekuatan pada alat ini adalah bahwa hal itu akan memungkinkan kita belajar lebih baik tentang suatu penyakit klinis serta bagaimana kemungkinan penyakit tersebut di tularkan dari orang tua kepada keturunannya.
            Awali dengan mencari OMIM untuk “hypercholesterolemia” satu dari kelainan genetik yang paling umum, dan dicirikan oleh peningkatan ikatan kolesterol untuk LDL (low density lipoprotein). Walaupun beberapa masukan muncul pilih satu saja yang berlabel “143890 HYPERCHELESTEROLEMIA, FAMILIAL”.
            Anda akan dihubungkan dengan halaman yang mengandung analisis genetik dan deskripsi detil dari hypercheolesterolemia yang berhubungan dengan keluarga yang disebabkan oleh mutasi pada gen reseptor LDL. Telusuri halaman ini atau pilih pada sisi paling kiri dari layar [misalnya corak klinis (clinical features), cytogenetics, genetika populasi (population genetics)] lalu jawab pertanyaan berikut ini. Sebuah versi singkat halaman ini tersedia pada “MINI-MIM” dan “Clinical synopsis” yang berada pada bagian lebih sebelah kiri dari halaman ini.

1.      Pada kromosom yang mana gen reseptor LDL ditemukan?
2.      Sebagai tambahan, untuk meningkatnya kolesterol serum penyakit lain apa yang diderita oleh penderita penyakit ini?
3.      Apakah hubungan antara reseptor LDL dengan virus hepatitis C?
4.      Berapa frekwensi gen heterozygot hypercholesterolemia familial dalam populasi?
5.      Dalam istilah penyakit arteri koronaria, pada usia berapa gen heterozygot menunjukkan gejala penyakit ini? Serta pada usia berapa gejala yang muncul pada gen yang homozygot?
6.      Tipe binatang apakah yang masih ada yang memungkinkan ilmuwan mempelajari lebih jauh tentang penyakit ini?

b. Modul 4. PubMed pada Perpustakaan Obat Nasional
             MEDLINE adalah database blibiographi Perpustakaan Obat Nasional (National Library of Medcine = NLM). PubMed adalah pelayanan pencarian Perpustakaan Obat Nasional yang menyediakan akses untuk lebih dari 11 juta kutipan dalam MEDLINE yang berhubungan dengan jurnal-jurnal online yang berkaitan. Beberapa artikel full-text dihubungkan secara langsung dengan database. PubMed memungkinkan kita mencari referensi medis dan ilmiah secara mudah. Memulai membuka homepage PubMed dari situs NCBI dengan meng-klik pilihan ”PubMed” pada bagian atas kiri dari halaman ini. Sekali anda berada pada home page PubMed anda ingin mencari hal-hal khusus untuk dengan mudah mengeliminasi artikel-artikel ilmiah yang tidak berkaitan. Jika kita ingin artikel-artikel khusus tentang sesuatu misalnya tentang lalat buah (fruit flies) cara yang paling mudah adalah dengan mengetikkan nama ilmiah dari lalat buah. Untuk menemukan nama ilmiah dari lalat buah anda harus mengunjungi home page Taxonomy dan mencari lalat buah (fruit fly). Di sini anda akan menemukan nama genus dan species yang umum dari lalat buah.

1.      Apa nama ilmiah (genus dan species) dari lalat buah? Jika anda mengetahui nama genus, anda boleh mengetiknya dalam PubMed. Akan muncul 34.000 artikel ketika anda mencarinya di PubMed menggunakan nama genus (akses pada 1 Januari 2001) yang kebanyakan berupa abstrak artikel saja yang tersedia. Hal ini sangat banyak untuk melihat semua artikel ini. Tentunya anda harus menentukan pilihan yang spesifik. Lalu bagaimana mencari hal khusus tentang lalat buah? Seuah gen baru (disingkat Indy) saat ini telah dipelajari dan telah menunjukkan penambahan rentang hidup. Cobalah untuk mencari nama genus dan genIndy sebagai berikut: ”(genus) AND Indy”. Setidaknya sebuah paper akan muncul dengan nama genus dan kata Indy beberapa tempat dengan judul atau abstrak.
2.      Apakah judul artikel yang ditulis oleh Rogina B, Reenan RA, Nilsen SP, dan Helfand SL? Klik pada artikel ini untuk menghubungkannya dengan abstrak artikel jurnal ilmiah mutakhir ini.
3.      Kapan gen tunggal lalat buah telah bermutasi, pendekatannya dengan berapa kali lebih lama lalat buah hidup, bandingkan dengan lalat buah yang tidak bermutasi?
4.      Kemungkinan apa yang penulis kemukakan tentang mekanisme bertambahnya rentang hidup lalat buah?

            Bayangkan implikasinya bahwa gen ini adalah jika sebuah versi gen yang telah ditemukan dalam genom manusia. Apa yang akan kita butuhkan untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang untuk mengorganisasi sebuah pencarian genom manusia untuk homologi atau hubungan evolusioner dengan gen lalat buah ini.
c. Modul 6. Gen dan Penyakit
            Lokasi dari beberapa gen yang terlibat dalam penyakit manusia dapat diidentifikasi dengan sebuah langkah cepat berkat adanya Human Genome Project. Untuk menguji lebih jauh hubungkan dengan web site NCBI dan pilih icon ”Genes and Disease (Gen dan Penyakit)” di bagian bawah kanan kolom yang berlabel ”Hot Spots”. Anda sekarang telah masuk bagian dari NCBI yang memperlihatkan hubungan antara 24 kromosom manusia (22 autosom dan 2 kromosom seks) dan penyakit genetis. Pada sisi kiri dari halaman ini terdapat beberapa kategori penyakit genetis. Sebagai contoh misalnya pilih ”transporters” bada bagian kanan bawah untuk mempelajari tentang penyakit genetis yang melibatkan protein carier membran dan protein chanel. Seanjutnya pilihlah ”cystic fibrosis” pada bagian sebelah kiri atas halaman ini untuk mempelajari lebih jauh tentang penyakit genetik yang paling fatal di Amerika. Untuk kromosom yang mempunyai gen CFTR (cystic fibrosis transmembrane conductane regulator) telah dilokalisasi.
           Perhatian bahwa sejumlah database lain (seperti PubMed, OMIM) telah dihubungkan dengan halaman ini. Masing-masing dari link ini akan menjelaskan pada anda secara lebih tentang cystic fibrosis, misalnya literatur ilmiah pada penurunan protein dan manifestasi klinik dari penyakit ini. Kembali kepada halaman utama ”Gen dan Penyakit (Genes and Disease)”.

              Pada bagian atas dari halaman ini, pilihlah kromosom individu untuk gen manusia CFTR yang dilokalisasi. Apa yang ditunjukkan kemudian adalah seperangkat kromosom yang gen-gennya telah teridentifikasi perannya dalam penyakit manusia. Klik pada masing-masing penyakit yang menarik untuk mendapatkan informasinya yang jelas. Sebagai contoh, PENDRED SYNDROME adalah kelainan menurun yang terjadi 10% dari tuli turunan dan gen penyebab kelainan ini juga dilokalisasi dalam kromosom ini. Selanjutnya pilihlah gen OB.
1.      Apa peran leptin di dalam tubuh?
2.      Apakah semua kasus obesitas merupakan hasil mutasi gen ini?
3.      Apa saja hal-hal lain yang menyebabkan obesitas?
             Beberapa penyakit genetik lain telah ditemukan lokasinya dalam kromosom manusia dengan baik. Nikmati kebebasan menjelajahi kromosom lain dan kelainan genetik yang ditemukan di dalam kromosom itu.

Gambar 13. Kromosom no. 7 tempat gen penyebab cystic fibrosis ternyata juga terdapat gen penyebab penyakit yang lain

            Tiga modul ini akan menyediakan gagasan bagaimana pengembangan sumber daya nasional akan digunakan. Empat modul lain meliputi:
1.      Taxonomy, yang menjelajahi garis keturunan dan mengenalkan urutan data dari beberapa juta species berbeda yang ada di bumi yang meliputi organisme punah seperti manusia Neanderthal, kucingsabertooted dan mammoth wool.
3.   Analisis protein, yang mengenalkan hubungan antara mRNA dan protein-protein, serta memungkinkan siswa untuk menjelajahi karakter protein antipembekuan darah yang diisolasi dari kelenjar ludah nyamuk.
5.   Kemelimpahan untuk Homologi Protein,  yang memperkenalkan siswa kepada hubungan evolusioner protein dari species-species yang berbeda-beda serta memungkinkan siswa mencari database protein manusia yang homolog dengan protein lalat buah yang menunjukkan penambahan rentang hidup dari serangga ini.
7.   Struktur dan Visualisasi molekuler, dimana siswa diperkenalkan dengan konsep-konsep dasar struktur protein. Glikoprotein dari virus ebola digunakan sebagai contoh untuk menunjukkan ikatan H, ikatan disulfida sebagaimana empat tingkat organisasi struktur protein.
             Dalam sebuah editorial tamu dalam ABT, sejumlah alasan disebutkan bagaimana pentingnya siswa dan masyarakat umum memahami Human Genome Project serta implikasi dan keterbatasannya (Jegalian, 2000). Pertama yang dibutuhkan bagi siswa untuk mengetahui bagaimana boomingpenelitian dalam molekuler biologi dan kedokteran sehingga mereka dapat mempunyai kesempatan untuk menjadi peneliti bagi mereka sendiri. Kami yakin bahwa modul-modul ini adalah langkah pertama untuk rangkaian tersebut.

Simpulan
            Dari uraian di atas dapat dibuat simpulan sebagai berikut:
1.         Bioinformatika adalah teknologi pengumpulan, penyimpanan, analisis, interpretasi, penyebaran dan aplikasi dari data-data biologi molekul. Perangkat utama Bioinformatika adalah software dan didukung oleh kesediaan internet dan server World Wide Web (WWW). Cabang-cabang yang berkaitan dengan bioinformatika antara lain: biofisik,Computational biology, medical informatics, Cheminformatics, Genomics, Mathematical biology, proteomics, Pharmacogenomics, sertaPharmacogenetic.
2.         Salah satu cara untuk mengenalkan bioinformatika kepada siswa dalam kurikulum biologi adalah dengan menggunakan modul.
3.         Tujuan memperkenalkan bioinformatika kepada siswa adalah memmbuka wawasan siswa bahwa saat ini telah terjadi banjir data dan informasi yang berkaitan dengan penelitian yang berbasis biologi molekuler serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi peneliti.

Daftar Pustaka

Aprijani, D.A. dan Elfaizi, M.A. 2004. Bioinformatika: Perkembangan, Disiplin Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia.
Bloom, M. 2001. Biology in silico: The Bioinformatics Revolution. The American Biology Teacher.
Ensiklopedi Microsoft Encarta. 2006. Human Genom Project. Microsoft Corporation.
Ensiklopedi Wikipedia. 2011. Bioinformatika. diakses melaluihttp://id.wikipedia.org/wiki/Bioinformatika    pada 1 November 2011
Smith, T.M. dan Emmeluth, 2002. D.S. Introducing Bioinformatics Into the Biology Curriculum: Exploring the National Center for Biotechnology Information. The American Biology Teacher. Volume 64. No.2 February 2002.
Utama, A. 2003. Peranan Bioinformatika dalam Dunia Kedokteran. Artikel Populer Ilmu Komputer diakses melalui http://www.Ilmukomputer.com  pada tanggal 1 April 2011

Jumat, 28 Oktober 2011

Habitat dan penyebaran ikan gurame

Inilah gambaran tentang habitat dan penyebaran ikan gurame. Ikan Gurame adalah ikan asli Indonesia. Karena ukurannya dianggap besar, maka mendapat julukan Indonesia Giant Gorame. Awalnya, ikan gurami banyak ditemukan di Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Tetapi karena sangat digemari masyarakat, maka ikan ini menyebar ke beberapa pelosok tanah air. Bahkan sejak abad 18, ikan gurami sudah diitroduksi ke negara lain, diantaranya Madagaskar, Mauritius, Sycheles, Australia, Srilangka, Suriname, Guyane, Martinique dan Haiti (ROBERT,1992).

Sesuai dengan sejarah perikanan Indonesia yang cukup panjang, ikan gurami juga telah lama dikembangkan secara komersial oleh para pembudidaya, baik yang khusus memelihara gurami atau memelihara dengan jenis ikan lainnya. Bahkan dibeberapa daerah sudah terbentuk sentra-sentra kawasan pengembangan budidaya, sehingga apabila memerlukan benih atau konsumsi dapat dengan mudah mendatanginya.

Beberapa kawasan pembudidaya gurami yang dibilang besar diantaranya di Jawa Barat, yaitu di Bogor, Tasikmalaya, Ciamis, Garut; di Jawa Tengah, yaitu Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga; Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Kulonprogo, Bantul dan Sleman; Di Jawa Timur, yaitu Tulungagung, Blitar dan Lumajang, dan propinsi lainnya, yaitu Sumatra Barat, Riau, dan Kalimantan Selatan (SUNARMA, 2004).

Di alam, gurami sangat menyenangi perairan yang tenang, seperti Rawa, Situ, danau dan perairan tenang lainnya. Menurut SARWONO dan SITANGGANG (2000), di sungai yang bearus deras, gurami jarang ditemui. Kehidupan yang menyukai perairan yang bebas arus itu terbukti, ketika gurami sangat mudah dipelihara di kolam-kolam tergenang. Sedangkan Max Weber dan De BEAU FORT dalam The Fishes of The Australian Archipelago mengungkapkan bahwa gurami dapat menyesuaikan diri pada perairan yang agak payau dan agak asin. Kegiatan ini banyak dilakukan di Cengkareng, Kamal, dan Tegal Alur di Wilayah Jakarta Barat.

DJARIJAH dan PUSPOWARDOYO (1992) mengungkapkan gurami umumnya hidup dan banyak dipelihara di perairan tawar, terutama pada perairan yang tenang dan dalam. Gurami dapat tumbuh dan berkembang pada perairan tropis dan subtropis. Ikan ini mempunyai daya adaftasi tinggi terhadap lingkungan, tetapi lebih cocok hidup pada ketinggian maksimal 800 m di atas permukaan laut. Selanjutnya keduanya mengatakan, bahwa suhu ideal untuk pertumbuhan gurami antara 24 – 29 O C, derajat keasaman(pH) antara 6,5 – 8, kandungan oksigen terlarut 3 – 5 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk

budidaya udang putih

BUDIDAYA UDANG

I. Pendahuluan
Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995 produksi udang windu mulai mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh penurunan mutu lingkungan dan serangan penyakit. Melihat kondisi tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan produk-produk yang berprinsip kepada Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).

II. Teknis Budidaya
Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :
2.1. Syarat Teknis
- Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.
- Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 - 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.
- Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.
- Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.
- Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.

2.2. Tipe Budidaya.
Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :
- Tambak Ekstensif atau tradisional.
Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.
- Tambak Semi Intensif.
Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.
- Tambak Intensif.
Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.

2.3. Benur
. Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.

2.4. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan, meliputi :
- Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.
- Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
- Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.
- Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
- Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.

2.5. Pemasukan Air
Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.

2.6. Penebaran Benur.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :
- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
- Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
- Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

2.7. Pemeliharaan.
Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.

2.8. Panen.
Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

III. Pakan Udang.
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S
(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.

IV. Penyakit.
Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;
1. Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.

2. Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.

3. Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.

4. Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.

5. Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.
Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.
Ikan Lele merupakan keluarga Catfish yang  memiliki jenis yang sangat banyak, diantaranya Lele Dumbo, Lele Lokal, Lele Phyton, Lele Sangkuriang dan lain-lain. Pada tulisan terdahulu sudah dituliskan mengenai Budi Daya Ikan Guramih Pada Kolam Terpal, pada kesempatan ini akan dibahas BUDI DAYA IKAN LELE DUMBO pada Kolam terpal. Budi Daya Ikan Lele dumbo relatif lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan budi daya guramih. Pada dasarnya metode Budidaya ini adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit,  modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Lele Dumbo merupakan ikan yang memiliki beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang.

Aneka masakan dari lele bisa diperoleh dengan mudah, rasa daging yang lezat dan gurih membuat bisnis budi daya lele menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan keuntungan.Olahan Ikan lele misalnya pecel lele, abon lele, dan keripik kulit lele. Selain itu Lele dumbo lebih mudah dipelihara dan cepat dalam pertumbuhannya. Dengan kondisi air yang “buruk” Lele dumbo bisa bertahan hidup dan berkembang dengan baik, dengan demikian solusi pemeliharaan lele dumbo dengan terpal menjadi alternatif yang perlu dicoba. Budidaya Ikan Lele dumbo dengan Kolam terpal mendatangkan peluang usaha yang cukup menjanjikan dan tidak memerlukan modal usaha yang besar. Analisis budidaya Lele Dumbo dapa dilakukan dalam berbagai model untuk konsumsi dan pembibitan.

Model Budi Daya Lele Dumbo

Peluang usaha Budidaya lele dumbo dengan kolam terpal dapat dilakukan dalam beberapa bentuk antara lain, tujuan pembibitan dan tujuan konsumsi. Budi daya Ikan Lele Dumbo sebagai bibit merupakan upaya memenuhi kebutuhan bibit yang terus meningkat seiring dengan permintaan Ikan Lele Dumbo Konsumsi. Budidaya Ikan Lele Dumbo Konsumsi merupakan upaya memelihara Ikan Lele Dumbo sampai ukuran dan bobot tertentu. Biasanya dari berat 1 ons per ekor ikan lele dumbo sampai 1 kg per ekor. Ukuran Lele Dumbo 1 Kg /ekor  ke atas biasanya digunakan pada kolam pemancingan yang berisi Lele dumbo.

Salah Satu Model Kolam Terpal Lele Dumbo

Budidaya Lele Dumbo Untuk Pembibitan

Peluang Usaha Budidaya Lele dumbo Untuk tujuan pembibitan bisa dilakukan antara lain:
  • Pemijahan dan penetasan telur lele dumbo, setelah menetas bisa dijual kepada peternak lain untuk dibesarkan atau dipelihara lagi sampai besar. Karena bibit lele dumbo baru menetas sudah bisa dijual, sehingga merupakan peluang usaha bagi yang memilih menekuni bidang ini. Jika lahan yang tersedia sempit solusi ini bisa menjadi alternatif. Modal untuk usaha ini hanya tempat dan indukan lele dumbo. Bibit Lele dumbo baru menetas biasanya dihargai berdasarkan perkiraan jumlah anakan Lele Dumbo, yang ditentukan berdasarkan bobot induk dan jumlah induk Lele Dumbo.
  • Penyediaan Bibit Ukuran 2-3 cm, dalam kurun waktu satu bulan setelah menetas bibit lele dumbo telah mencapai ukuran 2-3 cm dan siap untuk dijual ke pasaran. Pembesaran benih lele dari menetas hingga ukuran ini idealnya ditempatkan pada kolam lumpur atau sawah, sehingga memerlukan lahan yang relatif luas. Meski di kolam terpal tetap bisa dilakukan tetapi tidak bisa dalam jumlah yang besar, meski demikian peluang usaha tetap terbuka. Pembesaran Lele Dumbo pada bak  atau kolam terpal pada ukuran ini memerlukan makanan tambahan berupa pelet buatan pabrik.
  • Penyediaan Bibit ukuran 5-7 cm, pada ukuran 5-7 cm benih lele dumbo siap dijual sebagai bibit yang mendatangkan peluang usaha. Biasanya ukuran ini dipelihara oleh peternak sampai ukuran layak konsumsi.

Pemeliharaan Lele Dumbo Untuk Konsumsi

Lele dumbo untuk keperluan konsumsi biasanya dipelihara mulai dari ukuran 5-7 cm atau lebih besar, untuk hasil panen cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan pemberian makanan yang ekstra dan optimal. Peluang usaha budidaya lele dumbo untuk konsumsi ini relatif lebih mudah karena ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan tingkat hidup lebih tinggi. Untuk mendapatkan ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

Persiapan Pembuatan Kolam Terpal

Persiapan untuk budi daya lele dumbo dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara. Untuk Pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter, yang bisa diisi dengan 100 ekor lele dumbo ukuran 5-7 cm. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih membuat terpal tahan lebih lama.

Pemeliharaan Lele Dumbo

Pertama kali kolam terpal diisi dengan air yang tidak terlalu dalam terlebh dahulu, untuk lele dumbo ukuran 5-7 cm bisa diisi air 40 cm terlebih dahulu, agar ikan tidak terlalu capek naik dan turun dasar kolam untuk mengambil oksigen, seiring dengan bertambahnya usia dan ukuran kedalaman air ditambah. Perlu disediakan pula rumpon atau semacam perlindungan untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang senang bersembunyi di daerah yang tertutup.
Pemberian pakan dilakukan dengan pemberian pelet sehari dua kali, lebih bagus lagi lebih dari dua kali tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika di lingkungan tersedia pakan alami seperti Bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain-lain, bisa diberikan makanan alami tersebut. Makanan alami selain bisa menghemat pengeluaran juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga pertumbuhan lele dumbo lebih cepat. Selain itu ada beberapa teknologi yang bisa dipakai untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele dan ikan lainnya.
Meski Lele dumbo tahan terhadap kondisi air yang buruk ada baiknya perlu diganti air sekitar 10-30% setiap minggu, agar kolam tidak terlalu kotor dan berbau. Penyakit pada ikan lele mudah menyerang pada air yang kotor. Pada usia satu bulan atau jika diperlukan perlu dilakukan seleksi dan pemisahan lele yang memiliki ukuran yang berbeda. Biasanya lele mengalami pertumbuhan yang tidak sama, sehingga jika tidak dipisahkan lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Selain itu pisahkan jika ada ikan yang terindikasi terserang penyakit agar tidak menular. (Galeriukm)
Related posts:
  1. Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Dengan Kolam Terpal
  2. Budidaya Ikan Gurameh Pada Kolam Terpal
  3. Lele Phyton Upaya Perbaikan Mutu Ikan Lele
  4. Bisnis Memijahkan Lele Dumbo
  5. Bisnis Menguntungkan Budidaya Lele Sangkuriang

Jumat, 29 April 2011

BIO-FLOC TEKNOLOGI
Di usulkan oleh:
WAWAN SETYAWAN 26010210141005 2010
REKI   SUHARYADI   26010210130102 2010

UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
SEMARANG
2010

1.PENDAHULUAN

 1.1.LATARBELAKANG

          Teknologi budidaya terus berkembang seiring dengan semakain banyaknya permasalahan yang timbul  dalam budidaya.Permasalahan penyakit virus seperti (WSSV, TSV, IMNV, LVNV, IHHNV),maupun bakteri yang terutama vibriosis,merupakan penyebaba utama kegagalan dalam budidaya udang maupun ikan.kualitas air laut cenderung menurun akibat limbah industry (buangan pabrik),aktivitas pertanian ,perkebunana,serta limbah rumah tangga dan perkotaan. Di samping itu , limbah tambak juga turut memperparah penurunan kualitas air laut.Akibatnya terjadi penyuburan di air laut (oraganik tinggi, N dan P tinggi), sehingga memacu perkembangan plankton dan bakteri baik yang bersifat merugikan antara lain semakin meningkatnya populasi blue grean algae dan dinoflagelata. Perkembangan populasi bakteri vibrio yang terus meningkat. Hal ini akan berakibat menimbulkan stress pada udang dan ikan , kekebalan ikan dan udang menurun dan mudah terserang penyakit.

        Adanya penurunan kualitas air laut dan berkembangnya bakteri pathogen menibulkan resiko masuknya bibit penyakit bila mengambil  air laut secara langsung tanpa melalui tendon dan sterilisasi. Untuk itu  , perlu  dilakukan  upaya  mengurangi air masuk  dari luar secara langsung , air baru yang di ambil dari laut atau lingkungan  luar harus di seterilkan dan di tamping dalam recervior , menerapkan system sedikit atau tanpa ganti air dengan menggunakan system semi atau tertutup maupun ressikulasi serta menerapan semaksimal mungkin bio sekuriti.Penerapan system sedikit atau tanpa ganti air memiliki resiko atau konsenkuensi antara lain terjadi penumpukan ammonia di dalam lingkungan  lingkungan tambak , perkembangan populasi plankton yang pekat dan terjadi kematian masal plankton ,aktivitas perombakan bahan organik  tinggi sehinga kebutuhan oksigen akan semakin tinggi , berkembangnya bakteri baik yang pathogen maupun non pathogen serta semakin besarnya kemungkinan udang atau ikan menjadi stres dan bermasalah.

1.2.TUJUAN

Untuk mengatisi berbagai masalah di bidang budidaya udang maupun ikan dalam lingkungan masyarakat.
Untuk meningkatkan produktifitas budidaya perikanan agar permintaan pasar terpenuhi
Disusun untuk mengikuti lomba gagasan karya tulis yang di selengarakan oleh PKM FPIK UNDIP semarang.
    

1.3. MANFAAT

Kualitas air akan lebih stabil sehinga dalam penggunaan air akan sedikit di tekan dan tidak boros dalam pemakaian air.
Menumbuhkan dan menjaga dominasi bakteri di dalam kolam akan lebih stabil daripada dominasi algae (plankton) karena tidak terpengaruh oleh sinarmatahari.
Bakteri akan terkumpul dan akan membentuk floc yang kemudian akan di manfaatkan oleh ikan atau udang sebagai pakan tambahan.
Sistem bio flok juga bias menekan pemberian pakan sehinga akan lebih efisien dalam biaya pengeluaran.





GAGASAN


KONDISIS KEKINIKINIAN

         Flok mengandung beragam macam bakteri ,jamur, mikroalga dan organism lain yang tersuspensi dengan detritus dalam air budidaya.Flok mentreatment dan mem biokonversi buangan terlarut dan buangan partikulat menjadi biomas microbial.Flok memainkan perang penting dalam trietment air dan produksi pakan alami , meurunkan pakan dan biaya pembuangan limbah dan mengeliminir kebutuhan artificial biosubtrat.Tahun tahun belakangan ini ,prosel flok microbial menarik perhatian seantero dunia untuk menggunakan teknologi ini ,terutama untuk pembudidaya ikan dan dang di kolam yang intensif dengan system closed.Tetapi hanya segelintir orang yang menyadari sejarah dan pontensial untuk budidaya beraneka jenis ikan air tawar dan air laut .

        Bio flok teknologi (BFT) mrupakan alat bioteknologi yang relative baru untuk mengontrol kualitas air di kolam ikan maupun udang ,untuk meminimalkan polusi,untuk me-recycle material pakan dan menurunkan biaya produksi. Ini semua sesuai dengan kebutuhan pengembangan budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.Sekarang ,teknologi ini telah menarik perhatian akuakulturis  di seluruh dunia dan banyak petambak dan perusahaan telah mulai menggunakan teknologi bio flok ini.Hinga saat ini teknologi ini sudah sukses di amplikasikan di kolam ikan (kebanyakan budidaya ikan nila di Amerika serikat dan Israel) dan di tambak udang(di Indonesia dan lain lain).
Kelompok kerja BIO FLOK TEKNOLOGI , di ketahui oleh  Prof.Yoram Avnimelech didirikan 6 tahu lalu oleh Aquaculture Engineering society.

        Prof.yoram mengatakan bahwa kola berflok bias divisualisasi sebagai kolam yang membangun bio filter. Karena tambak ikan dan udang  mempunyai ekosisitem sendiri yang kaya akan komunitas microbial, ini dapat di gunakan untuk mengontrol kualitas air seperti halnya nutrisi dan kesehatan ikan dan udang. Nitrogen anorganik  yang di tambahkan ke kolam melalui pakan dapat diasimilasi oleh mikroorganisme ini dan di konversi menjadi protein microbial melalui penyesuaian C : N ratio.. udang  ikan dan spesies lain dapat memanen flok microbial dan memanfaatkan protein microbial ,sehinga efisien protein pakan berganda . di kolam koalm ini , pengaruh C/N ratio bias di prekdiksi dan jumlah kebutuhan karbohidrat dapat di hitung. Hasil eksperimen dan komersial yang ada mengindikasikan bahwa kolam BFT mencapai hasil panen yang tinggi, ramah lingkungan dan sisitem ekonois yang sustainable.

        Menurut angelito (2002),kebanyakan system manejem yang di gunakan tambak mengandalkan algae untuk memberikan stabilitas air dan nutrient budidaya. Sayangnya ,system ini sangat sulit untuk memainten karena banyak variable yang terkait. Tahun tahun belakangan ini , suatu model baru dalam dunia aquaculturesedang mendapatkan kemajuan dan penekanannya dalam hal ini adalah menstimulasi populasi bakteri di ekosistem kolam untuk memberikan tranformasi nutrien, pemanfaatan limbah melalui flokulasi “BIO FLOK” . namu demikian , perihal pengoprasian seperti biaya dan fungsionalitas menjadi penghalang untuk pengadaptasiannya. Dengan menggunakan kutur bakteri ‘mixed’, dia menunjukan bagaimana hal tersebut dapat menstimulasi , mempertahan kan dan memanejemn algae yang bermanfaat berbasis flokulasi selama setiap tahapan kulture.Proses konsep bio flok adalah bahan organic dalam tambak di aduk dan di aerasi agar terlarut dalam kolam air untuk merangsang bakteri heterotof aerobic menempel pada partikel organic, selanjutnya menyerap mineral seperti ammonia , fosfat dan nutrient lain dalam air budidaya.Dalam mengunakan teknologi bio flok akan meghasilkan  kualitas air menjadi lebih baik dan bahan organic di daur ulang menjadi detritus yang bermanfaat bagi udang dan ikan. Berikut adalah hal hal yang penting dalam teknologi bio flok :

Penentukan ammonia dan bahan organic dalam teknologi bio flok..
       Dalam  system budidaya konvensional hanya 20 – 30 % N dan P yang termanfatkan , sebagian besar terbuang karena tidak termakan dan menjadi kotoran . N yang terbuang sebagian besar berbentuk ammonia.Selama masa budidaya bahan organic (sisa pakan , kotoran udang dan organismeyang mati termasuk plankton),akan terkumpul dan mengendap di dasar tambak dan sebagai bahan organic terlarut dalam air. Hal ini memicu berkembangnya bakteri (baik yang menguntukan dan yang merugikan). Kebutuhan oksigen di dalam air akan semakin besar. Bahan yang organic yang mengendap di dasar akan mengakibatkan kondisi yang menjadi kekurangan oksigen (anaerob), sehingga sebagian bakteri akan merombak bahan organic dengan memanfaatkan slulfat dan nitrat . Hasil dari perombakan secara anaerobic akan menghasilkan sejumlah senyawa beracun seperti asam sulfida , ammonia , nitrit dan metana. Untuk mencegah munculnya beberapa racun tersebut dapat di lakukan dengan cara menjaga agar selalu cukup oksigen dan bahan organic selalu dalam kondisi teraduk serta mencegah terjadinya daerah mati sebagai tempat endapan kotoran (lumpur).


Pentingnya C : N ratio untuk teknologi bio flok

        Bakteri heterotof dapat mensintesa protein dari karbohidrat dan ammonia , C : N rasio harus sesuai untuk keperluan bakteri , seimbang antara sumber  C  dan N. nilai C : N  ratio dalam media budidaya akan selalu berubah ubah tergantung dari masukan bahan yang di gunakan dalam budidaya . paka yang di berikan pada udang  atau ikan mengandung protein yang cukup tinggi dengan C : N ratio di bawah 9. Penumpukan ammonia hasil metabolism udang atau iakan dan perombakan bahan organic oleh mikroba akan memperkecil C ; N ratio sehinga pada suatu saat perlu adayan penambahan C organic untuk meningkatkan nilai C : N ratio sekaligus untuk menekan kandungan N anorganik ammonia yang bersifat racun. Pada nila C : N ratio yang rendah mikroba yang berkembang cenderung menggunakan senyawa N organic (asam amino , protein , amina), sebagai sumber N dalam nensintesis protein , sedangkan dalam nilai C : N ratio yang tinggi mikrobia yang berkembang mngguanakan N anorganik (ammonia dan nitrat) sebgai sumber N dalam menyusun protein dalam selnya. Namun apabila nilai C : N ratio terlalu tinngi berakibat terhambatnya proses penguraian baha organic karena kekurangan unsure N . Dalam penerapan teknologi bio flok , nilai C ; N ratio harus cukuptinggi , yaitu lebih dari 12 atau idealnya 15 – 20.
Penggunaan Carbon organic untuk teknologi bio flok

        Umumnya pakan yang di gunakan untuk budidaya memiliki C : N  ratio rendah. Hal ini mengingat pakan sengaja di ramu untuk hewan target yaitu ikan atau udang dan sedikit pertimbangan untuk lingkungan budidaya. Sehingga dampaknya terjadi penumpuka N dalam media budidaya. Untuk meningkatkan nilai C : N ratio maka perlu adanya penambahan C organic untuk meningkatkan nilai C ; N ratio dengan cara pemberian molasses , tepung terigu , tepung gaplek untuk menurunkan ammonia, di perlukan 20 gram karbohidrat per M3  untuk menetral kan 1ppm ammonia. penambahan C organic tergantung pada kandungan protein dalam pakan yang di gunakan , semakin tinggi kadar proteinnya maka semakin besar pula kebutuhan C organic yang harus di berikan untuk tambahan. Penggunaan C organic seperti molasses untuk meningkatkan C : N ratio serta pengaruhnya terhadap ammonia, total bakteri , dan mikroorganisme lain yang terkandung dalam air kolam
11.2.SOLUSI DALAM MENERAPKAN TEKNOLOGI BIO FLOK
       
FILTRASI AIR
Awalnya kolam di isi air laut baru yang di saring dengan penyaring khususs ,agar mengeliminasi kepiting, remis dan tritip.kolam yang baru terisis di pupuk dengan pupuk nitrogen dan pospor selama 2 minggu. Setelah air kolam berkembang organism fitoplankton dan zooplankton, kemudian kolam di tebar bibit udang atau ikan .

PENGELOLAAN PAKAN
Feeding di atur sebesar 200 – 250 % dari biomasa udang , suatau jumlah pakan atau masukan organic yang jauh lebih besar dari yang di konsumsi udang. Kelebihan pakan tersebut untuk memelihara populasi bakteri yang nantinya akan di perlukan untuk menangani sebuah besar limbah buangan yang di hasilkan seiring meningkatnya biomasa udang. Pellet gandum yang mengandung protein 18% dengan rasio karbon atau nitrogen 20 : 1 di berikan sebanyak 90% dari total pakan yang di berikan .

PENGAMATAN KUALITAS AIR
Setelah kondisi bio flok berkembang selama minggu ke 7 atau ke 8 budidaya , PH dan alkalinitas menurun, sehinga karbodioksida meningkat.supaya kondisis tetap optimal , alkalinitas di pertahankan pada level 75- 90 ppm dengan penambahan kapur CaO atau kaptan. Awalnya , level oksigen menunjukan variasai diurnal seperti halanya dengan kolam budidaya dengan kolam intensif yang di kelola denga pergantiana air , setelah kondisis heterotof berkembang variasinya antara pagi dan sore tidak nyata.
PENGAERASIAN
Pengoprasian aerasiatau kincir bervariasai , selama siang hari kincir di nyalakan selama 50% jika biomas udang kurang dari 12.000 kg/ha sementara jika biomasa udang melebihi 12.000 kg/ha semua kincir di hidupkan dan di malam harinya .

PADAT TEBAR YANG TINGGI
Jika padat tebar udang turun di bawah 100 ekor/m2, akan menjadi lebih sulit untuk membentuk kondisi heterotof .padat tebar yang lebih tinggi tampaknya lebih cepat setabil dengan kondisi dasar tambak yang lebih bersih. Kondisi budidaya yang paling stabil dengan tebar antara 125 dan 140 ekor/m2. Pada biomasa udang yang lebih tinggi , aktifitas udang akan mengaduk dasar tambak yang lebih banyak smpah yang terkandung dalam dasar kolam akan tersapu oleh perputaran kincir .

PENGELOLAAN  BIO FLOK
Konsep pemeliharaan bio flok yag sehat sangat serupa dengan pengelolaan komonitas bakteri dalam penggunaan kompos dari limbah pertanian  kriteria kriteria berikut ini harus di penuh ini:

Tabel 1.komposisi nutrisi materi detritus (%DM ) dengan protein yang
             Beda.

kandungan    Kolam 1    Kolam 2    Rata rata      
Bahan organik    78    66    72      
Abu    21    32    26.5      
Protein     51    35    43      
Lemak    10    15    12.5      
Arginin    2,3    1.61    1.95      
Lisisn    2,5    1.7    2.1      
Methionin    0,61    0,36    0.48   

Data dari rod McNeil.
Kolam 1 : pakan berprotein 31,5 %
Kolam 2 : pakan berprotein 22,5%

PERGERAKAN AIR
Pergerakan air yang cukup untuk menjaga flok bakteri alam susupensi juga sangat kritikal.flok yang besar juga bias mengendapa jika tak ada pergerakan air. Belinze aquaculture menempatkan kincir 60% jaraknya dari sudut kolam kearah tengah kolam. Kincir kincir ini di arahkan  untuk menciptaka pergerakan air memutar searah jarum jam. Kecepatab air bervariasi dari 0,23 m/detik di bagian tepi hingga 0,05 m/detik di tengah kolam. Level oksigen di pertahankan di atas 4 ppm di seluruh bagian kolam
POSISI KINCIR

11.2.CARA CARA DALAM MENGEMBANGKAN BIO FLOC

Harus memahami tentang probiotik atau bakteri heterotof
Kebutuhan aerasi (oksigen) dan pengadukan bahan organic harus sesuai apa yang di butuhkan
Tanpa atau sedkit ganti air
Pakan yang digunakan adalah pakan yang berprotein rendah
Carbon organic untk mengimbangkan C : N ratio
Pengelolahan kualitas air secara intensif
Amplikasi kapur untuk control PH dan alkalinitas agar ikan atau udang tidak mudah stress
Perlu dilakukan pengamatan khusus dalam pengambilan keputusan
   
KESIMPULAN

           kondisis budidaya dengan siitem bioflok masih sedikit yang menjalankannya sehinga produksi ikan atau udang di indonesia semakin menurun. Dengan teknologi bio flok ini di harapkan prodoksi ikan dan udang indonesia khususnya para budidaya bisa meningkat dan tidak tergantug dari alam.dan dari pada itu teknologi bio flok di harapkan bias mengatasi berbagai masalah di dunia perikanan seperti penyakit WSSV yang sulit di hentikan perkembangan virusnya hinga saat ini. Dan bukan hanya itu saja bio flok juga di harapkan bias menghemat konsumsi pakan yang di berikan ikan atau udang.


DAFTAR PUSTAKA
Avnimeleh, Y.2006.mikrobial controlled ponds – principlesim and new developmen. Presentation in vegas.http://floc.aesweb.org/
conquest, L. and Albert Tacon,2006. Untilization of mikrobial floc in aquaculture syistem : A review.presentation in vegas 2006.
panjaitan, P. and yoram avnimeleh,2006.efec of C/N ratio on water qualiti in zero water exchange microscosms. Prensentation in ferenze.


CURICULUM  VITAE
Nama        :  WAWAN SETYAWAN
Tempat,tanggal lahir            :  Demak 10 Desember 1990   
Alamat                    :  DEMAK
Agama                    :  ISLAM
Hobi                    :  Olahraga , membaca
Moto hidup                :  Jadilah alif yang selalu tegak
Cita cita                :  Ilmuan
Organisasi                :  Saka Bahari Demak
Riwayat pendidikan
SD Negeri bango 2 kecematan demak kabupaten demak
SMP Negeri 4 demak
SMK Perikanan Demak